“Banyak yang mengira Data Analyst hanya untuk lulusan IT.”
Anggapan ini cukup sering muncul ketika seseorang melihat lowongan kerja di bidang data. Mereka berpikir bahwa Data Analyst harus menguasai pemrograman tingkat lanjut, memahami sistem komputer secara mendalam, atau berasal dari jurusan teknologi informasi.
Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Data Analyst memang bekerja dengan data dan menggunakan berbagai perangkat teknologi. Namun, inti pekerjaannya bukan hanya membuat kode atau memahami sistem komputer. Seorang Data Analyst bertugas mengolah data, menemukan pola, menjawab pertanyaan bisnis, dan membantu perusahaan mengambil keputusan yang lebih tepat.
Karena itu, kemampuan analisis, ketelitian, pemahaman bisnis, dan kemampuan menyampaikan informasi juga sangat penting.
Lulusan Berbagai Jurusan Bisa Menjadi Data Analyst
Lulusan IT tentu memiliki keunggulan dalam memahami teknologi dan pemrograman. Namun, lulusan ekonomi, bisnis, statistik, akuntansi, manajemen, teknik, bahkan ilmu sosial juga memiliki peluang untuk masuk ke bidang Data Analyst.
Mengapa demikian?
Setiap jurusan memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap data. Lulusan ekonomi mungkin lebih memahami hubungan antara harga, permintaan, inflasi, dan perilaku konsumen. Lulusan akuntansi terbiasa membaca laporan keuangan dan memeriksa ketelitian angka. Lulusan bisnis memahami penjualan, pelanggan, pemasaran, dan operasional perusahaan.
Sementara itu, lulusan statistik memiliki dasar yang kuat dalam pengolahan angka, metode penelitian, dan interpretasi hasil analisis.
Pengetahuan tersebut dapat menjadi modal penting dalam pekerjaan Data Analyst.
Data Analyst Tidak Hanya Dibutuhkan di Perusahaan Teknologi
Kesalahpahaman lain adalah anggapan bahwa Data Analyst hanya bekerja di perusahaan teknologi. Kenyataannya, hampir semua jenis perusahaan menghasilkan dan menggunakan data.
Perusahaan retail membutuhkan analisis untuk mengetahui produk yang paling laku. Bank menggunakan data untuk memahami perilaku nasabah dan mengelola risiko. Rumah sakit menganalisis data pasien dan layanan kesehatan. Perusahaan manufaktur menggunakan data untuk mengontrol produksi dan persediaan.
Di bidang pemasaran, data digunakan untuk mengukur efektivitas kampanye. Di bagian sumber daya manusia, data dapat membantu menganalisis kehadiran, kinerja, dan kebutuhan tenaga kerja.
Artinya, peluang kerja Data Analyst dapat ditemukan dalam berbagai industri. Bahkan, posisi yang berkaitan dengan analisis data tidak selalu menggunakan nama “Data Analyst”. Ada juga posisi seperti Business Analyst, Reporting Analyst, Marketing Analyst, Operations Analyst, dan Business Intelligence Analyst.
Keterampilan Apa yang Perlu Dikuasai?
Untuk memulai karier di bidang ini, seseorang tidak harus langsung menguasai semua hal. Keterampilan dapat dipelajari secara bertahap.
Pertama, kuasai Excel. Excel masih banyak digunakan untuk membersihkan data, melakukan perhitungan, membuat PivotTable, menyusun laporan, dan menganalisis informasi secara cepat.
Kedua, pelajari SQL. SQL digunakan untuk mengambil, menyaring, dan menggabungkan data dari database perusahaan.
Ketiga, kenali Python. Python membantu mengolah data dalam jumlah lebih besar, melakukan proses cleaning, analisis, dan otomatisasi pekerjaan.
Keempat, pelajari perangkat visualisasi seperti Power BI. Dengan Power BI, hasil analisis dapat disajikan dalam bentuk grafik dan dashboard yang lebih mudah dipahami.
Selain keterampilan teknis, kemampuan komunikasi juga sangat penting. Data Analyst harus mampu menjelaskan hasil analisis dengan bahasa sederhana. Sebab, hasil kerja Data Analyst bukan hanya ditujukan untuk sesama orang teknis, tetapi juga untuk pimpinan dan tim bisnis.
Jangan Hanya Mengumpulkan Sertifikat
Memiliki sertifikat memang dapat menjadi bukti bahwa seseorang pernah mengikuti pelatihan. Namun, sertifikat saja belum cukup untuk menunjukkan kemampuan.
Calon Data Analyst sebaiknya memiliki portofolio. Portofolio dapat berupa analisis data penjualan, dashboard sederhana, laporan pelanggan, atau proyek lain yang menunjukkan proses kerja dari awal hingga akhir.
Misalnya, seseorang dapat menggunakan dataset penjualan retail untuk membersihkan data, mencari produk terlaris, membandingkan penjualan antarperiode, menganalisis tren, dan menyusun rekomendasi bisnis.
Dengan demikian, orang lain dapat melihat bukan hanya aplikasi apa yang dikuasai, tetapi juga bagaimana seseorang berpikir dan mengambil kesimpulan dari data.
Kesimpulan
Jadi, lowongan Data Analyst bukan hanya untuk anak IT. Lulusan ekonomi, bisnis, statistik, akuntansi, manajemen, dan bidang lainnya juga memiliki peluang yang sama untuk berkembang.
Yang paling penting adalah kemauan belajar, kemampuan berpikir analitis, ketelitian, serta keterampilan menggunakan tools yang relevan.
Jangan bertanya, “Saya bukan lulusan IT, apakah bisa menjadi Data Analyst?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Apakah saya bersedia mempelajari cara mengubah data menjadi informasi yang berguna?”
Karena di dunia kerja, perusahaan tidak hanya membutuhkan orang yang bisa mengoperasikan aplikasi. Perusahaan membutuhkan orang yang mampu membantu mereka memahami data dan mengambil keputusan dengan lebih baik.